Nabi yusuf adalah Nabi yang ke 11, Nabi yang dikaruniai oleh Allah paras yang tampan, bagus dan rupawan. Mempunyai mukjizat berupa kemampuan untuk menafsirkan mimpi. Ayah Nabi Yusuf adalah Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim dan ibunya bernama Rahil.

Nabi Ya’qub Alaihissalam mempunyai dua orang istri yang bernama Layya dan Rahil. Dari Layya lahir 10 anak laki-laki, dan dari Rahil lahir 2 orang anak laki-laki yaitu Yusuf dan Bunyamin.

Kisah Nabi Yusuf Untuk Anak-anak

kisah-nabi-yusuf

Kisah Nabi Yusuf Alaihissalam ini baiknya dibacakan oleh orang tua dengan nada dan intonasi yang bagus, agar anak-anak suka dengan kisah-kisah Nabi dan Rasul. Bisa juga dibacakan sebagai pengantar tidur. Berikut kisah Nabi Yusuf yang menyentuh hati.

Suatu malam, Yusuf kecil bermimpi, mimpinya sangat menakjubkan. Dalam mimpinya, Yusuf melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Saat bangun, Yusuf langsung menemui ayahnya, Nabi Ayub.

Yusuf menceritakan mimpinya kepada Ayahnya. “Ayah, Sungguh aku melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; semuanya bersujud kepadaku”.

Nabi Ya’qub mampu memahami makna mimpi dari putranya, yaitu kelak Yusuf akan dipilih Allah untuk menjadi Nabi.

Nabi Ya’kub seketika merasa takjub dan segera memuji Allah. Beliau yakin Yusuf bukanlah seorang anak biasa, melainkan anak yang dimuliakan oleh Allah. Rasa sayangnya kepada Yusuf pun semakin besar.

Nabi Ya’kub berpesan agar Yusuf tidak menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya. “Jangan engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, mereka akan mencelakaimu kalau tahu mimpi tersebut”.

Nabi Yakub khawatir jikalau kakak-kakaknya akan iri dan dengki kepada Yusuf atas anugerah Allah itu. Yusufpun menaati permintaan ayahnya dan tidak bercerita kepada siapapun.

Nabi Yakub semakin sayang kepada yusuf. Sikap Nabi Yakub ini menjadikan saudara-saudaranya iri dan dengki. Mereka lalu merencanakan untuk mencelakai Yusuf.

Mereka ingin menyingkirkan Yusuf dari keluarga, agar kasih sayang Nabi Yakub beralih kepada mereka.

“Yusuf dan bunyamin lebih disayang Ayah daripada kita. Padahal kita lebih kuat darinya, ayah benar-benar sedang dalam kesesatan”, kata salah satu putera Nabi Ayub saat berunding bersama saudara-saudaranya.

Salah seorang kakak Yusuf berkata “bunuh saja dia” tapi ada saudara lain yang tidak setuju. “Jangan dibunuh, masukkan saja dia ke dalam sumur”, usulan dari salah satu mereka, dan itu yang disepakati mereka.

Suatu hari, saudara-saudara Yusuf menghadap kepada ayahnya, Nabi Ya’kub, agar bisa mengajak Yusuf bermain di luar. “Ayah, kami sepuluh orang saudara ini mau mengajak Yusuf untuk ikut berburu di hutan. Sudah lama sekali kami tidak berburu, mohon Ayah mengijinkan”.

Awalnya Nabi Ya’kub tidak mengijinkan, “Biarlah dia bersenang-senang dan bermain-main dengan kami yah, kami pasti akan menjaganya”, desak kakak-kakak Yusuf.

Nabi Ya’kub berkata, “Sesungguhnya kepergian kalian bersama Yusuf sangat menyedihkanku, dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala saat kalian lengah”.

Saudar-saudara Yusuf menjawab, “Kami adalah orang-orang kuat, jika ia benar-benar dimakan serigala, maka kami termasuk orang-orang yang rugi”.

Nabi Yusuf Dibuang di Sumur

Karena desakan dari kakak-kakak Yusuf tersebut, akhirnya Ayah mereka mengijinkan meskipun Nabi Ya’kub tetap menyimpan rasa khawatir”.

Akhirnya pergilah mereka bersama Yusuf ke hutan. Sesampai di dekat sumur tua, mereka melepas baju Yusuf, lalu melemparkannya ke dalam sumur. Kakak-kakak Yusuf yang jahat meninggalkan dirinya di dasar sumur yang gelap dan dingin.

Setelah itu saudara-saudaranya Yusuf menyembelih seekor domba, lalu mengoles-ngoleskan darahnya ke baju Yusuf. Mereka ingin mengarang cerita dan berbohong bahwa Yusuf telah dimakan serigala.

Sore harinya mereka pulang menemui ayahnya dalam keadaan pura-pura menangis. Mereka bercerita bahwa Yusuf diterkam serigala sambil memberikan baju Yusuf yang berlumuran darah kambing kepada ayahnya.

Nabi Ya’kub sangat sedih, apa yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi. Namun beliau tahu bahwa anaknya tidak diterkam serigala. Nabi Ya’kub yakin bahwa mereka telah mencelakai Yusuf.

Beliau pun berdo’a sambil menangis dan memohon untuk keselamatan Yusuf. “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18).

Nun jauh di sana, Yusuf terjebak di dalam sumur. Yusuf berharap ada orang yang menolongnya. Hingga dengan izin Allah, datanglah rombongan kafilah dagang yang mampir ke sumur untuk mengambil air.

Salah seorang dari mereka bermaksud menimba air dari dalam sumur. Ketika tali timba diturunkan, Yusuf memegangnya dan bergantung pada tali itu. Setelah diangkat, orang itu terkejut melihat seorang anak yang tampan dan rupawan bergelantungan memegang tali timba.

Selanjutnya kafilah dagang tersebut membawa Yusuf ke Mesir dan menjualnya sebagai budak. Yusuf dibeli oleh seorang pembesar mesir bernama Qithfirul Asir, yang mempunyai istri bernama Zulaikha. Saat itu usia Yusuf sekitar kurang lebih 7 tahunan.

Sekian dulu kisah Nabi Yusuf Alaihissalam. Lihat kelanjutan kisah lengkap selanjutnya pada Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha. Biasakan untuk menceritakan kisah-kisah Nabi dan Rasul kepada anak-anak sebelum tidur agar mereka bisa belajar dari teladan terbaik di dunia ini.