Masalah yang dialami para Ayah saat ini rata-rata sama, sering tugas luar kota dan jarang di rumah. Intensitas bertemu dengan keluarga dan anak-anak sangat minim karena tuntutan pekerjaan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap cara mendidik anak agar kelak jadi cerdas dan mandiri.

Para ayah yang baik dan budiman…! Saat Anda sedang ada bersama anak, ambillah peran maksimal sebagai ayah yang hadir secara fisik, temani anak-anak bermain dan bercanda. Maksimalkan peran ayah saat ada kesempatan.

Tetapi saat tuntutan pekerjaan harus memaksa berjauhan jarak dengan keluarga dan anak-anak, maka mari kita belajar dari sejarah ayah yang pernah melahirkan orang besar.

cara mendidika anak untuk ayah yang jarang di rumah

Ayah yang satu ini tahu betul harus berbuat apa untuk melahirkan orang besar. Masalah yang dihadapinya sama seperti yang kita keluhkan, sering tugas luar kota dan sering berjauhan dengan anak. Bahkan masalahnya lebih besar lagi.

Ayah itu bernama Abdul Aziz bin Marwan. Seorang ayah yang telah melahirkan tokoh dunia yang hingga hari ini tidak ada tandingannya. Seorang ayah yang telah membuktikan mimpi Sayyidina Umar bin Khattab: “Di antara anak cucuku ada yang mempunyai bekas di wajahnya, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan.”

Ya, beliau adalah ayah dari pemimpin yang adil nan fenomenal; Umar bin Abdul Aziz. Salah seorang pemimpin dari dinasti Bani Umayyah yang oleh para ulama sejarah sering disebut sebagai khalifah rasyid kelima, disejajarkan kepemimpinannya dengan 4 khulafaur rasyidin.

Hanya dalam waktu 29 bulan Umar bin Abdul Aziz mampu memakmurkan dunia dengan keadilannya. Simak bagaimana sang ayah yang jarang di rumah mampu melahirkan sosok pemimpin adil dan cerdas yang sangat fantastik.

Sebagai seorang ayah, Abdul Aziz bin Marwan mengalami nasib serupa dengan nasib para ayah hari ini. Saat tugas negara harus memaksanya pergi dan jauh dari keluarga, seberapa pun perihnya hati Abdul Aziz dia tetap harus pergi.

Umar sang anak ada di Madinah tempat kelahirannya, sementara Abdul Aziz sang ayah mendapat tugas di Mesir. Hari itu jarak Madinah dan Mesir bukanlah jarak yang sederhana seperti hari ini. Alat transportasi paling canggih saat itu hanyalah kuda dan unta.

Tapi Abdul Aziz mampu melahirkan Umar bin Abdul Aziz. Umar adalah buah karya dari ayahnya, Abdul Aziz. Kami ajak Anda para ayah untuk membaca kembali sejarah mereka, semoga mampu memberikan pelajaran berharga untuk para ayah.

Tugas negara memanggil Abdul Aziz, menjadi seorang Gubernur Mesir. Dia pun segera berangkat mengemban amanah. Tidak terpikir di awal bahwa dia akan dipisahkan padang pasir dan laut merah dengan Umar sang putra kesayangan.

Rencana awal adalah dia pergi duluan dan kemudian disusul oleh istri dan anaknya di lain hari. Tetapi ternyata hanya istrinya yang pergi ke Mesir, sementara Umar ditinggal di Madinah atas permintaan Abdullah bin Umar bin Khattab sebagai paman Umar bin Abdul Aziz.

Untuk memenuhi kebutuhan Umar, Abdul Aziz mengirimkan 1000 dinar setiap bulannya. Semenjak itulah Umar hidup dan diasuh di lingkungan keluarga besar keturunan Umar bin Khattab.

Cara Mendidik Anak Agar Cerdas dan Mandiri

Di kemudian hari, Umar bin Abdul Aziz pergi ke Mesir untuk tinggal bersama ayahnya. Tetapi sang ayah harus melepas kembali anaknya ke Madinah dalam rangka menuntut ilmu.

Abdul Aziz menitipkan sang anak kepada seorang ulama besar di Madinah Shalih bin Kaisan –rahimahullah- Salah satu peristiwa sangat menarik yang dicatat sejarah adalah, tanggung jawab penuh seorang guru, Shalih bin Kaisan terhadap anak didiknya Umar bin Abdul Aziz. Shalih tidak mau Umar terlambat shalat wajib walau hanya sekali.

Suatu saat, Umar terlambat shalat. Shalih tidak meremehkan hal ini. Shalih bertanya mengapa Umar terlambat. Ternyata, Umar terlambat karena sibuk merapikan rambutnya.

Shalih bin Kaisan pun melaporkan hal itu kepada Abdul Aziz di Mesir. Abdul Aziz mengirimkan seseorang yang ditugaskan untuk menggunduli kepala Umar di Madinah.

Ayah… Ini adalah pelajaran yang sangat menarik dan berharga. Abdul Aziz sebagai ayah, tetap berfungsi maksimal sebagai ayah meski terpisah jarak. Dan memang harus begitu cara mendidik anak, kalau para ayah ingin melahirkan anak-anak istimewa walau sulit berjumpa dengan mereka.

Dari kisah di atas, inilah pelajaran berharga untuk semua ayah yang jarang di rumah dan sulit untuk bertemu dengan anak-anaknya:

1. Titipkan anak kepada yang layak.

Kalau masih ada ibu, maka ibu harus menjadikan dirinya seperti keluarga Abdullah bin Umar yang mengasuh Umar bin Abdul Aziz. Demikian juga, kalau ternyata pengasuhnya harus orang lain seperti kerabat atau yang lainnya.

Ayah tidak boleh asal meninggalkan anak dan tidak peduli kepada siapa dititipkan. Karena anak adalah aset masa depan yang sangat mahal. Maka seorang ayah harus seperti menitipkan perhiasan mahal.

Titipkan hanya kepada orang yang amanah dan tahu besarnya tanggung jawab amanah tersebut, dan mengerti harus berbuat seperti apa dalam menjaganya.

Baik ayah pergi kerja jauh dari rumah, atau sulit mempunyai kesempatan bertemu dengan anak karena berangkat pagi pulang malam, maka sang anak harus hidup di tangan orang yang berfungsi seperti Abdullah bin Umar. Berikan guru, yang berperan sebagai ayah dan guru.

Pendidikan merupakan bekal utama masa depan anak. Saat ayah jauh dari anak atau sulit memerankan fungsinya sebagai ayah karena keterbatasan waktu, maka pilihkan bagi anak-anak, guru yang berperan sebagai guru yang sesungguhnya. Bahkan mampu berperan dalam perhatian dan evaluasi selayaknya ayah. Seperti peran Shalih bin Kaisan dalam mendidik Umar bin Abdul Aziz.

2. ‘Hadirkan’ ayah, walau tak benar-benar hadir.

Ayah harus tetap mengambil perannya dalam pendidikan anak meski dari kejauhan atau di sela waktu padatnya tugas dan pekerjaan. Bahkan siapapun yang dititipi anak, baik pengasuh ataupun pendidik, harus selalu melibatkan ayah dalam evaluasi hasil pendidikan.

Saat Umar bin Abdul Aziz berbuat kesalahan karena terlambat shalat, maka sang guru melaporkan hal tersebut kepada ayahnya. Ayah yang berada di negeri jauh, segera mengambil peran sebagai ayah yang bisa dirasakan oleh anak. Tindakan evaluasi pendidikan.

Dengan demikian, anak tetap merasakan ‘kehadiran’ sang ayah, walaupun ayahnya tidak benar-benar hadir secara fisik. Seperti Abdul Aziz saat menggunduli kepala Umar.

3. Fasilitas fisik, jangan mengusik.

Fasilitas fisik memang sesuai dengan kemampuan ayah. 1000 dinar sebulan, jelas hanya bisa diberikan oleh ayah yang berekonomi kuat seperti Abdul Aziz. Ini pelajaran pertama bagi ayah yang mampu. Intinya, bukan sekadar memenuhi kebutuhan anak. Tetapi menampilkan sosok ayah yang penuh tanggung jawab di mata anak. Jangan sampai, anak mengukir dalam ingatannya tampilan sebagai ayah yang egois.

Bagi ayah yang tak semampu Abdul Aziz tentu tak perlu bermuram. Karena di sinilah peran ibu atau siapapun yang mendidik untuk menampilkan sosok seorang ayah yang berjuang maksimal bagi anaknya.

Baca: Cara Menjadi Ibu yang Baik dan Sukses dalam Mendidik Anak

Fasilitas fisik jangan sampai mengusik pertumbuhan anak. Kalau Anda ayah yang mampu, tunjukkan sebuah tanggung jawab yang menghilangkan kesan egois. Kalau Anda ayah yang kurang mampu, berikan semampu Anda dan siapapun yang bersama sang anak harus memberikan kesan seorang ayah yang penuh tanggung jawab.

4. Manfaatkan kecanggihan alat komunikasi

Kecanggihan alat komunikasi hari ini, seharusnya memudahkan kita untuk berinteraksi walau fisik berjauhan. Hari ini bukan hanya sekedar suara bijak seorang ayah yang bisa didengar melalui telpon. Tetapi guratan wajah ayah pun bisa dinikmati oleh sang buah hati melalui video call. Belum lagi komunikasi kata lewat aplikasi messenger yang sangat mudah dikirimkan.

Meskipun, ayah tidak boleh hanya merasa cukup dengan komunikasi model ini. Pertemuan fisik, sentuhan khas ayah, kecupan sayang di suatu hari nanti, tetap dinantikan sang buah hati dan tidak tergantikan.

5. Setelah ini semua, ayah jangan lupa munajatnya

Seperti NAbi Ibrahim, ayah yang kaya akan doa. Mendidik anaknya dalam jarak Palestina- Mekah.

Kirimkan sentuhan hati sejujurnya. Saat ayah menelpon, berikan suara yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Saat ayah mengirimkan pesan melalui WhatsApp, goreskan dengan sapuan dari relung hati. Dan memanjatkan doa adalah ungkapan hati yang paling jujur dan paling dalam.

Selamat mencoba ayah… Demikian solusi untuk para ayah yang jarang di rumah. Lantunkan selalu dzikir dan doa untuk kebaikan anak-anak Anda. semoga para ayah bisa menjadi seperti Abdul Aziz yang melahirkan Umar. Amin ya robbal alamin…

Remake dari tulisan Sang Guru Budi Ashari dengan judul: Solusi untuk ayah kadang-kadang.