Berbicara tentang cara mendidik anak dalam Islam, Ada salah satu surat dalam Al Qur’an yang menerangkan lengkap tentang pendidikan anak usia dini. QS Ali Imran membicarakan bagaimana menyusun kurikulum pendidikan anak untuk keluarga Muslim.

Pendidikan anak dalam Islam bukan hanya mentransisi anak dari bodoh menjadi pintar. Tapi juga proses menjaga anak agar terjaga dari api neraka. Proses menjaga anak dari api neraka sama kedudukannya dengan perintah sholat dan membayar zakat.

Tahap Perkembangan Anak dalam Islam

cara mendidik anak dalam islam
© Diary Sang Guru

Proses mendidik anak ini diharapkan akan menjadi jalan menuju surga bagi para orangtua. Berikut tahap perkembangan usia anak-anak dalam pendidikan Islam yang harus diketahui para ayah dan ibu;

  • Usia 0-3 tahun
  • Usia 4-6 tahun
  • Usia 7-9 tahun
  • Usia 10-12 tahun

Lebih dari 12 tahun sudah tidak lagi disebut anak-anak, kita mengenalnya dengan sebutan remaja, Islam menyebutnya dengan usia baligh. Cara mendidik remaja Islampun sudah berbeda, tidak bisa disamakan dengan pendidikan anak-anak.

Tahap perkembangan anak berdasarkan usia dikelompokkan per 3 tahun. Pendekatan pengelompokan usia ini bukan hitungan dari Al Qur’an dan bukan perkataan ulama’. Hanya saja saat kita membuka Al Qur’an dan Hadist, di sana ada ayat yang berbicara tentang rentang usia manusia.

Angka rentang usia yang di sebutkan dalam Al Qur’an ada di QS Al Ahqof ayat 15, mulai dari dalam kandungan hingga mencapai usia kematangan 40 tahun.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Angka rentang usia juga disebutkan dalam Hadist Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukulah mereka jika tidak shalat saat berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Saat orangtua gagal dalam pendidikan sholat di usia 7-9 tahun, anak akan susah melaksanakan sholat pada usia 10 tahun. Usia 7-10 tahun ada rentang waktu 3 tahun, inilah landasan dipakainya pembagian rentang usia untuk mendidik anak ala Rasulullah.

Para ahli ilmu mengatakan bahwa orangtua harus menanamkan semua nilai “pondasi kepribadian” pada usia fitrah. Usia ini berada pada tahapan 6 tahun pertama, yang rentang usianya antara 1-3 tahun dan 4-6 tahun. Inilah yg akan dibahas oleh Diary Sang Guru pada artikel kali ini.

Pada setiap tahapan pertumbuhan anak, akan dibahas 3 hal berikut ini:

  1. Apa saja kebutuhan pokok paling dasar yang diperlukan oleh anak sesuai rentang usia.
  2. Bahaya paling besar yang sering terjadi pada anak sesuai rentang usianya.
  3. Nilai-nilai apa saja yang harus ditanamkan, dan bagaimana cara menerapkannya sesuai dengan tahapan usia anak.

Keberhasilan pendidikan anak di usia 1 – 6 tahun menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan anak pada tahap selanjutnya, yaitu pada usia 7-10 tahun, begitupun selanjutnya sesuai bertambahnya tahapan usia.

Mendidik anak seperti membuat sebuah bangunan, harus satu kesatuan, dimulai dari pondasi dasar hingga menjadi bangunan utuh yang berdiri tegak. Bukan membuat puzzle, sekedar mencomot dan menempelkan ilmu. Sehingga ilmu itu hanya nempel, tidak membangun kepribadian anak seperti sebuah bangunan yang kokoh.

Ilustrasi Rasulullah ketika mengumpamakan manusia itu seperti sebuah bangunan. Perumpamaan orang beiman dalam CINTA dan kasih sayang seperti tubuh, yang jika ada satu yang sakit, maka yg lain juga merasakan sakit.

Rasul juga menggambarkan manusia beriman itu seperti pohon yang kokoh atau bangunan yang kokoh, Maka untuk mendidik manusia utuh, kita harus memakai filosofi pohon yang utuh, atau membangun bangunan yang utuh dan urut.

Cara Mendidik Anak Usia 0-3 Tahun

Para psikolog menyebut usia ini dan tahap selanjutnya dengan “usia emas”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebut usia tersebut dengan “usia fitrah”. Sehingga nilai apapun yang ditanamkan pada usia 1-3 dan 4-6, manfaatnya akan terlihat saat usia anak sudah dewasa.

Apa yang Dibutuhkan oleh Anak di Usia 0-3 Tahun?

Tidak banyak kebutuhan yang diperlukan oleh anak usia 0-3 tahun. Tapi ada 2 kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh orangtua. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan makanan dan kebutuhan perhatian.

1. Kebutuhan Makanan

Al Qur’an menyebutkan usia 0-2 tahun dengan sebutan ‘usia rodho’ah, usia susuan.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan (QS. Al Baqarah: 233).

Al Qur’an menganjurkan bagi para ibu untuk menyempurnakan masa susuan bayinya selama 2 tahun penuh. Bahkan para ahli ilmu mengatakan, amalan yang paling utama bagi seorang ibu yang baru melahirkan adalah menyusui di 2 tahun pertama anaknya.

Dalam Islam ada ibadah yang berkaitan dengan waktu. Misalnya jika adzan sholat Jum’at sudah berkumandang, maka ibadah yang paling utama dilakukan saat itu adalah bersegera menuju ke masjid untuk mendengarkan khutbah, bukan membangun masjid, menyantuni fakir miskin, sodaqoh baca Al Qur’an atau yang lainnya.

Begitu juga bagi wanita yang baru melahirkan, ibadah yang paling utama dan paling mudah bagi para ibu saat itu untuk mendekatkan diri pada Allah adalah MENYUSUI ANAK.

Diantara hikmah besarnya adalah, ternyata Allah memberikan udzur alasan bagi ibu untuk meninggalkan sholat supaya full time/optimal/maximal bersama anak yang baru saja dilahirkan. Menurut fiqih Imam Syafi’i maksimal 50 hari untuk darah nifas, lebih dari 50 hari dianggap darah haidh.

Orang yang sedang nifas tidak sholat dan puasa supaya meluangkan waktu dengan intens dengan bayinya. Karena di masa ini peran seorang ibu sangatlah besar sekali dan tak tergantikan.

Tempat terbaik untuk pendidikan anak usia 1-6 tahun adalah rumah.

Waktu di usia fitrah ini akan menjadi sangat mahal, maka akan lebih baik jika orangtua mendampingi perkembangan anak-anaknya. Kondisi idealnya, ayah dan ibu full mendampingi anak karena saking mahalnya waktu tersebut.

Makanan yang paling dibutuhkan di usia 0-2 adalah ASI. Tidak ada obat untuk menguatkan anak di usia ini yang lebih hebat dari ASI, meskipun seluruh obat kuat di dunia ini di kumpulkan jadi satu.

Ketika seorang ibu menyusui anaknya, itu bukan hanya sekedar memberikan ASI, tapi juga sedang mentransfer nilai-nilai pada anaknya, termasuk keimanan dan kepercayaan yg sedang dijalaninya. Oleh sebab itu, kesedihan ibu berpengaruh terhadap anaknya.

Kita semua pasti tidak asing dengan nama Maryam, salah satu perempuan spesial yang namanya dijadikan salah satu nama surat dalam Al Qur’an. Maryam tidak boleh bersedih setelah melahirkan Isa. “Laa tahzani..”, kata Allah. Karena Tuhanmu telah mengalirkan sungai kecil dibawah kakimu. ibu yang sedang menyusui anaknya tersebut dihibur oleh Allah.

2. Kebutuhan Akan Perhatian dari Orangtuanya

Dr. Muhammad Khoir Asya’al, S1 mengambil kedokteran, sedangkan S2 dan S3 mengambil ilmu hadist, beliau mengatakan; “Anak usia 3 tahun pertama, sangat tidak baik jika yang mengasuhnya berganti-ganti orang”. Misal pagi dengan neneknya, sore diasuh bibinya, besok dititipkan tetangga, dll yang mengasuh secara bergantian.

Hal tersebut akan berimbas pada anak karena kehilangan hubungan cinta dengan orangtuanya. Dan ini tidak bisa ditebus ketika usia emas ini sudah lewat. Oleh sebab itu penting membangun hubungan cinta yang kuat dan erat antara orangtua dan anak di usia ini.

Saat ini banyak remaja di usia SMP SMA, ketika dipanggil oleh orangtuanya cenderung cuek dan tidak mendengarkan perkataan orangtuanya. Jika ditelusuri, hal itu ada ketidak tepatan pola didik pada 3 tahun pertama.

Hal yang Membahayakan Pendidikan Anak di Usia 0-3 Tahun

Setelah masa menyusui selesai, masuk fase selanjutnya, yaitu menyapih. Yang bahaya adalah ketika cara menyapihnya tidak tepat, akan meruntuhkan bangunan cinta dan perhatian yang telah kita kokohkan di awal. Anak akan menjadi benci terhadap orangtua.

Hati-hati pada pola penyapihan, harus kita siapkan pelan-pelan dan tenang. Harus masih ada rasa cinta, pelan-pelan agar anak tidak merasa terpukul. Pelukan, dekapan, elusan kepalanya wajib dilakukan walau tidak sambil menyusui anak.

Hal-hal yang Perlu Ditanamkan Pada Anak di Usia 0-3 Tahun

Usia 0-6 tahun adalah usia emas, jika menggunakan perumpamaan tanah, masa itu sedang subur-suburnya, ditanami apa saja pasti tumbuh. Maka perbanyak nilai-naili kebaikan, dan hindarkan dari nilai-nilai keburukan sejauh mungkin. Hindarkan juga dari tontonan televisi yang tidak penting.

Ada 2 hal penting untuk ditanamkan dalam mendidik anak di saat usia 3 tahun pertama.

1. Al Hubbu / Cinta

Tanamkan cinta pada anak, sehingga dia cinta pada dirinya dan orang-orang disekitarnya. Banyak hasil penelitian ketika para kriminal ditanya masa kecilnya, sebagian mereka mengaku tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang orangtuanya.

Pada usia ini anak belum paham dan belum bisa mencerna apa yang diungkapkan orangtua. Ketika orangtua mengungkapkan perasaan; “Ayah sayang kamu nak…”, anak belum paham kalo orangtuanya itu sedang mencurahkan kasih sayang pada anak.

Yang dipahami anak di usia ini tentang orang mencintainya adalah ketika anak itu ditemani oleh orangtuanya. Maka perbanyak duduk saja bersama anak. Anak tidak paham diberi hadiah di usia ini. Bercanda dan bermainlah dengan anak, seperti Rasulullah bercanda dengan zainab, anak tirinya dari Ummu Salamah.

Rasulullah juga bercanda dengan Husein cucunya. cucu Nabi menaiki tubuh Rasulullah hingga kemulut, lalu Rasul mencium bibirnya sambil berkata “Ya Allah aku mencintainya, maka cintailah mereka”.

2. Al Lughoh / Bahasa

Belajar dari Imam Syafi’i, Imam syafi’i adalah salah satu ahlul bait keturunan Rasulullah, berasal dari suku Quraisy. Pada usia 2-3 tahun, ibunya membawa Imam Syafi’i ke suku Hudail, suku yang bahasa Arabnya paling bagus dan paling fasih.

Pada usia 6-7 baru dibawa ke Madinah untuk belajar ilmu kepada Imam Malik. Maka dari itu bahasa Imam Syafi’i sangat bagus dan memiliki kecintaan pada syair yang dimanfaatkan untuk kepentingan Islam.

Pun demikian dengan Rasulullah, beliau berada di Bani Sa’ad di 5 tahun pertama, Suku yang paling fasih Bahasa Arabnya pada zaman itu. Muhammad kecil belajar Bahasa bersama ibu asuhnya, Halimatus Sa’diyah. Hingga Abu Bakr pun memuji kefasihan Bahasa Rasulullah.

Kefasihan Bahasa Arab Nabi Muhammad sangat berguna pada saat beliau berdakwah. Karena sejak kecil berada di lingkungan yang bahasanya halus, maka beliaupun bisa menyampaikan dakwah dengan bahasa yang sopan dan baik, sehingga bisa diterima masyarakat.

Untuk menghindarkan anak-anak dari bahasa yang kasar dan buruk, maka orangtua harus melakukan beberapa hal berikut dalam mendidik anak:

  • Jangan ikut-ikutan menggunakan bahasa cedal, sampaikan pada anak bahasa yang benar.
  • Jika Anda orang Jawa, ajarkan bahasa Jawa kromo inggil yang paling halus agar kelak bisa menjaga tatakrama saat bicara dengan orang yang lebih tua.
  • Hindarkan anak dari orang-orang yang perkataannya tidak baik, seperti mencela, misuh, mengumpat, mengeluh, dll.
  • Hindarkan anak duduk sendirian di depan TV, karena dia akan menyerap banyak kosakata buruk yang akan berimbas pada pendidikan tahap selanjutnya.

Ingat, pada usia ini anak ibarat tanah yang sangat subur. Apapun yang ditanam pasti akan tumbuh, maka hindarkan benih-benih keburukan. Sebaliknya, ajarkan beberapa kalimat inti berikut sebagai permulaan dalam mendidik anak:

  • Mengucapkan Bismillah saat mulai aktivitas apapun.
  • Mengucapkan Alhamdulillah setelah makan, keluar kamar mandi, dan saat selesai aktivitas.
  • Bacaan surat-surat pendek dengan nada dan irama.
  • Putarkan murottal surat-surat pendek, tapi lebih baik mendengar langsung dari orangtuanya sendiri.

Cara Mendidik Anak Usia 4-6 Tahun

Usia 4 sampai 6 tahun masih disebut usia fitrah. Ada beberapa hal yang harus di ajarkan pada usia 4, 5 dan 6 tahun.

Dr. Muhammad Khoir Assya’al mengatakan, kebutuhan pokok di usia ini ada dua; kebutuhan bergerak dan kebutuhan mengobrol.

1. Kebutuhan Bergerak dan Bermain (Al Harokah)

Anak-anak di usia ini penuh gejolak dan ingin selalu bergerak, suka mengikuti apa yang dilihat dan didengar. Semua yang dilihat dan didengar selalu ditiru meskipun cara dia melakukannya belum fasih.

Bermain bagi anak itu seperti bekerja bagi orang dewasa, maka anak yang tidak main, seperti orang dewasa yang nganggur dan tidak bekerja. Rasulullah menyampaikan dalam sabdanya:

عَرَامَةُ الصَّبِي فِي صِغَرِهِ زِيَادَةٌ فِي عَقْلِهِ عِنْدَ كَبِرِهِ

“Gerak anak yang berlebihan di usia kecil akan menambah kecerdasan anak tersebut di usia dewasa” (H.R. Tirmizi).

Meski derajat hadis ini dhoif, banyak para ulama atau penggiat parenting Islami yang mencoba menjelaskan hadis tersebut. Sebab pada realitanya anak kecil memang cenderung sangat aktif, tidak bisa diam dan senang bermain-main. Maka jangan dibatasi, tapi diarahkan, jangan dibiarkan bertindak tidak sopan. Kita justru harus waspada saat anak di usia ini tidak banyak bergerak.

Ibnu Sina mengatakan (sebagian ahli filsafat menyebut beliau syiah, namun kita tidak mengambil aqidah, tapi mengambil ilmu yang Allah berikan kepada siapapun hambanya yang mau belajar) tentang anak di usia ini:

Jika anak bangun tidur, sebaiknya dia istirahat sejak. Biarkan tenang, kemudian biarkan main dengan mainannya +/- 1 jam sambil disuapi makanan ringan, biarkan dia bermain dengan durasi yang lebih lama lagi, kemudian minta istirahat sejenak, baru disuapi sarapan pagi.

Al Qur’an juga menyebut kata “main” saat saudara-saudara Nabi yusuf meminta ijin kepada ayahnya untuk bermain di luar. “Izinkan kami mengajak Yusuf besok hari untuk senang-senang dan bermain”.

Panduan Anak dalam Bermain

Dr. Khalid Ahmad A Syantut, dalam bukunya “Peran Rumah dalam Pendidikan Anak” menjelaskan tentang panduan anak dalam bermain;

  • Jangan membatasi ruang gerak anak, biarkan anak di usia ini lepas tidak memikirkan waktu.
  • Ajaklah anak keluar minimal 1 minggu sekali ke tanah yang lapang untuk lari-lari. Puaskan kebutuhan bergerak anak, lepaskan, biarkan naik pohon dll.
  • Jangan bosan ketika anak mengajak kita mengulang-ngulang permainan yang sama.
  • Manfaatkan permainan-permainan untuk menganalisa perkembangan anak.

Gunakan permainan-permainan tersebut untuk menganalisa dan mengobati akhlak anak. Contoh ketika anak perempuan diberi boneka namun bonekannya didiamkan, dan interaksinya tidak ada, ini berhubungan dengan kesalahan pola orangtuanya terhadapnya. Anak meniru apa yang dilakukan orangtua terhadapnya. Pahami perasaan anak.

Nabi juga bermain bersama anak-anak, Rasulullah pernah bermain lomba lari dengan Abdullah bin  Abas (ketika Rasul meninggal usianya masih 13 tahun), Ubaidillah bin Abas (adiknya Abdullah), dan Suhail bin Abas (adiknya Abdullah). “Siapa yang menang akan diberi hadiah”, Kata Nabi.

PERHATIAN: Permainan bagi anak adalah yang membuat bergerak dan tidak membuat candu. Bukan permainan game di gadget yang tidak membuat anak bergerak dan menimbulkan efek kecanduan.

Nabi Muhammad saat bertemu Abu umair yg sedang bermain burung (dilepas burungnya dan ditangkap kembali), Rasulullah mengucapkan salam dahulu padahal anak tersebut belum baligh, belum wajib menjawab salam. Dipanggil dengan panggilan “Abu”, padahal panggilan itu untuk orang yang sudah menikah. “Wahai Abu Umair kamu apakan burung itu?”

Hadits ini dikaji oleh Imam Syafei dan beliau membuat 100 instimbad masalah fiqih dari hadist ini yang berkaitan tentang cara mendidik anak bagi orangtua.

2. Kebutuhan Ngobrol atau Dialog (Hiwar)

Ada banyak pembahasan cara mendidika anak dengan dialog antara ayah dan anak di dalam Al Qur’an, diantaranya adalah; Nuh-Kana’an, Yaq’ub-Anak, Ibrahim-Ismail, Lukman-Anak, dll.

Perbanyak dialog dengan anak di usia 4-6 tahun, karena itu akan membantu tahap pendidikan selanjutnya, yaitu usia persiapan menuntut ilmu. Ada beberapa tips sebagai panduan orangtua dalam berdialog bersama anak;

  • Jujur, dan jangan berdusta. Orangtua harus meperbanyak ilmu agar bisa menjawab pertanyaan anak yang aneh-aneh.
  • Jika tidak bisa menjawab pertanyaan anak, Orang tua bisa menjawab melalui media buku / video. Ikhtiar untuk menjawab dahaga anak terhadap ilmu.
  • Saat anak diam, maka orangtua yang bertanya dengan pertanyaanyang bisa merangsang pola pikir anak.

Hal-hal yang Perlu Diwaspadai Pada Anak Usia 4-6 Tahun

Anak usia 4-5 tahun suka meniru apa yang dilihat dan didengar, maka orangtua wajib waspada pada apa yang didengar dan dilihat anak.

Dr. Musyofa Abu Sa’ad dalam bukunya “Anak-anak yang Bandel dan Suka Rewel“, beliau mengatakan “yang memprogram anak adalah orangtuanya.” Karena anak akan meniru apa yang diucapkan dan sikap yang dilakukan”. Anak menangkap sekecil apapun gerak gerik orangtuanya.

Belajar keteladanan

Mendidik anak di usia ini adalah dengan cara memperlihatkan, bukan dengan perkataan, apalagi sambil ngomel dan marah-marah.

Abdullah bin Amir saat dipanggil oleh ibunya dan ibu menjanjikan sesuatu, Maka Rasul berkata “Berikanlah… Jangan berbohong!”.

Abdurahman bin Abi bakrah selalu mendengar ayahnya berdoa dzikir pagi petang “Allahuma afini fi badani…” Anaknya bertanya ”kenapa ayah membaca itu? jawabnya, “karena aku ingin menghidupkan sunah Nabi”, jawab beliau kepada anaknya yang masih kecil.

Rasulullah di dalam rumah melakukan apa yang dilakukan istrinya, kecuali saat waktunya shalat langsung meninggalkan dan pergi ke masjid seakan-akan tidak saling mengenal karena sibuk mempersiapkan shalat tepat pada waktunya.

Pendidikan di usia ini akan berhasil jika orangtuanya juga memberikan contoh bicara dan sikap yang baik. Anak pada usia 1-6 tahun menganggap orang paling hebat di mata mereka adalah Ayah dan Ibunya. Usia diatas 6 tahun mulai terpecah kekaguman anak dan akan membandingkan dengan guru dll. Maka orangtua harus benar-benar hebat, tidak boleh kalah sama guru atau orang lain.

Jika Anda ingin berhasil mendidik anak, maka yang harus pertama dirubah adalah mengubah diri Anda terlebih dahulu. Akhlak anak didapat bukan dari nasihat, tapi dari apa yang dilihat.

Hal-hal yang Perlu Ditanamkan Pada Anak di Usia 4-6 thn

Tanamkan anak usia 4-6 Tahun untuk cinta Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Jalin hubungan baik anak dengan Al Qur’an dan Sunnah di usia ini. Jika anak dekat dengan Al Qur’an dan Sunnah, dia akan senang dengan kebaikan.

Cara mendidik anak agar cinta Al-Qur’an harus disesuaikan dengan usia anak. Anak-anak belum bisa diajak berfikir, maka orang tua harus melakukan hal berikut untuk menanamkan anak agar cinta pada Al-Qur’an:

  • Mengajarkan membaca Al Qur’an
  • Sering memperdengarkan hafalan surat-surat pendek agar hafal.
  • Berikan sentuhan kisah-kisah dari Al Qur’an agar anak suka belajar.

Sedangkan cara mengajarkan Sunnah Nabi pada anak adalah dengan cara mengajarkan adab-adab Islami sebagai berikut:

  • Mengawali segala sesuatu yang baik dengan membaca Bismillah.
  • Mengakhiri segala aktivitas dengan mengucap Alhamdulillah.
  • Membiasakan mengucapkan Assalamualaikum saat keluar dan masuk rumah.
  • Membiasakan makan dan minum dengan tangan kanan sambil duduk.
  • Membiasakan tidur miring ke sebelah kanan saat mulai merebahkan badan.
  • Membiasakan buang air kecil di kamar mandi dan istinja’ setelahnya.
  • Dan adab-adab Islam sesuai sunnah lainnya.

Anak di usia ini masih suci, belum ada dosa sama-sekali. Jadi apapun ilmu yang orangtua masukkan di usia tersebut, tidak ada hijab yang menghalangi. Kelak akan sangat bermanfaat saat dia tumbuh menjadi dewasa.

Mendidik anak di usia fitrah kuncinya ada di kesabaran orang tua, kedisiplinan dan ketelatenan. Hanya kebanyakan orang tua menganggap sepele dengan alasan usianya masih kecil dan lain sebagainnya. Dan pendidikan anak terbaik di usia fitrah ini adalah di rumah bersama orang tua.

Demikian cara mendidik anak usia 0-6 tahun, silahkan dipraktekkan sesuai dengan usia dan kemampuan anak masing-masing. Mudah-mudahan bermanfaat, silahkan tanyakan di kolom komentar jika masih ada yang belum dipahami. Follow Diary Sang Guru di Facebook dan Pinterest untuk mengikuti update artikel menarik lainnya.