Tidak mudah memang cara menasehati anak agar perintah atau larangan dari orangtua didengarkan. Terlebih lagi, kadang anak justru lebih keras kepala dibandingkan orangtuanya.

Kebanyakan orang tua sudah memahami bahwa teriakan dan bentakan tidak akan bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik, tapi entah kenapa hal itu masih terus dilakukan.

cara menasehati anak yang baik

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, lalu bagaimana cara mendapatkan perhatian anak tanpa berteriak dan membentak? “Pakai bentakan keras sambil marah saja anak masih bandel, kata-kata orang tua tidak diperhatikan, terus bagimana kalau tanpa bentakan?” demikian beberapa pertanyaan yang terlintas pada benak rang tua. Kalau orang jawa bilang “Omongane wong tuwo rak tau digatekke”.

Cara Menasehati Anak

Biasanya orang tua membentak karena frustasi dengan tingkah anak, kata-kata sudah tidak digubris karena keasikan bermain. Berikut beberapa tips dari Diary Sang Guru agar anak-anak mendengarkan saat dinasehati. Tidak perlu bentakan, karena bentakan tidak banyak membantu merubah keadaan.

1. Utamakan tindakan daripada bentakan

Mengutamakan tindakan bukan berarti saat anak berbuat salah langsung ditindak dengan hukuman, tapi saat anak berbuat sesuatu yang tidak kita inginkan, ambilah tindakan yang tepat sebelum membentak.

Misal anak lari-lari dan kita khawatir kalau nanti jatuh, alih-alih berteriak sambil berkata “jangan lari-lari, nanti jatuh!” dengan nada tinggi, cobalah pegang dia dan sentuh dengan lembut agar dia berhenti kemudian baru dinasehati agar tidak lari-lari lagi.

2. Fokus kepada apa yang anak-anak ingin lakukan, jangan yang Anda ingin mereka berhenti lakukan

Saat anak-anak melakukan sesuatu, mereka hanya ingin bermain. Melarang mereka bermain pas sedang asik-asiknya tidak akan digubris sama sekali. Ini terutama berlaku pada anak kecil.

Ketika Anda mengatakan “jangan main di panasan”, gambaran di kepala mereka justru main di tempat yang panas. Jika Anda mengatakan “mainnya di bawah pohon aja ya, biar adem”, gambaran di kepala mereka menjadi main di bawah pohon itu adem dan menyenangkan.

3. Beri pujian, pujian, dan pujian!

Sedikit pujian akan sangat berarti bagi anak-anak. Ketika melihat anak berbuat salah, pujilah dia meskipun itu terlalu mengada-ada. Misal, jika anak berteriak dengan keras dan sedikit membentak, katakan padanya “Wow adek teriakannya kenceng banget, besok gedhe pengin jadi pemimpin upacara ya!, tapi kalau sama orang tua teriak-teriak gitu kayaknya gak sopan deh…”

Barulah setelah dipuji, anak diberi pengertian, itu lebih baik daripada “jangan berteriak, gak sopan tahu!”. Jangan lupa, usahakan beri sentuhan saat memberi nasihat. Nasehati dengan lembut, jangan sambil membentak, apalagi berkata dengan keras dan kasar.

Memberi pujian jangan terlalu lebay, karena itu juga membahayakan. Lihat artikel kami tentang 10 Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak dan Cara Mendidik Anak Muslim Usia 0 – 7 Tahun.

4. Tetapkan batasan, dan pastikan mereka paham

Gadget tidak baik untuk anak-anak, banyak peneliti yang menyarankan anak-anak dijauhkan dari gadget. Tapi jika Anda mengizinkan anak main gadget, aturlah waktunya, berikan batasan yang jelas dan pastikan mereka paham.

Misalnya anak Anda boleh main selama 30 menit, atur timer selama 30 menit dan jelaskan itu dengan anak-anak secara baik-baik. Pahamkan dia kalau timer sudah berbunyi, berarti waktu bermain telah habis.

Kalau anak sudah paham dan terbiasa melakukan hal tersebut, tanpa perlu berteriak dan membentak, mereka akan mengikuti peraturan yang ada. Asal Anda komitmen dengan aturan yang Anda buat dan disiplin untuk mengingatkannya.

5. Hukuman dan hadiah

Buatlah peraturan sederhana di rumah untuk anak-anak, bikin sebuah tulisan dan tempelkan. Terangkan pada mereka aturan-aturan tersebut. Pahamkan mereka, kalau tidak ada pelanggaran dalam sehari atau seminggu, anak-anak akan mendapatkan hadiah. Tapi kalau ada pelanggaran, mereka akan dihukum.

Hukuman yang diterapkan harus mendidik, bukan hukuman seperti orang dewasa. Semisal hukuman mereka harus membantu ibu mengepel lantai ruang tamu, nyapu halaman, mijitin ibu selama 15 menit atau yang lainnya.

6. Taruh ponsel Anda

Ini Seriusss… Letakkan ponsel Anda….

Saat ayah sibuk dengan laptopnya untuk ngecek email, dan ibu asik dengan facebook di smartphonenya, anak-anak merasa seolah-olah mereka tidak diperhatikan.

Kalau sudah seperti ini, biasanya anak-anak mencari perhatian dengan hal-hal yang konyol dan menjengkelkan. Terkadang tingkahnya sampai membuat orang tua sedikit emosi.

Anak-anak melakukan hal yang menjengkelkan bukan karena mereka nakal, tapi karena mereka sedang mencari perhatian orang tua yang sibuk dengan hal-hal lain.

7. Menawarkan pilihan daripada pertanyaan

Tips terakhir, daripada Anda bertanya, coba tawarkan opsi. Alih-alih mengatakan, “Ayo bersihin mainannya, taruh di tempat semula. Harus ibu katakan berapa kali lagi supaya bisa tertib?”, Coba ucapkan “Sayang, itu mainannya mau diberesin sendiri atau ibu yg mberesin kan udah gedhe?”.

Daripada mengatakan “Malam ini lauk tempe ya dek?”, Coba katakan “Adek suka tempe apa tahu?, tempe juga menyehatkan lho, kandungan gizinya bla bla bla….”. Memberikan opsi dengan pilihan yang Anda maui adalah cara terbaik untuk negosiasi sambil tetap mendapatkan jawaban sesuai yang Anda inginkan.

Satu hal yang perlu diingat bagi para orang tua; jangan remehkan hal-hal kecil. Memang Seolah-olah merawat anak itu adalah suatu hal yang gila, tetapi yakinlah, anak-anak akan tumbuh sesuai yang Anda inginkan jika Anda sabar dan disiplin.

Jika benar-benar ingin tahu cara membuat anak-anak mendengarkan perkataan Anda, cobalah selami dunia anak, berfikirlah dengan jalan fikiran mereka. Ikutlah bermain dan bersenda gurau seolah-olah diri Anda masih menjadi seorang anak, nikmati setiap menitnya, dan perhatikan perubahannya.

Rasulullah juga sering bersenda gurau dengan kedua cucunya. Hasan dan Husein terkadang main kuda-kudaan, naik di punggung sang Nabi. Meski beliau seorang Rasul, Nabi Muhammad juga seorang ayah dan juga seorang kakek. Maka cobalah belajar cara mendidik anak seperti Rasulullah, agar tidak salah langkah dalam memilih tindakan saat anak-anak berbuat kesalahan.